Home
learningbyteaching
Showing posts with label learningbyteaching. Show all posts
Showing posts with label learningbyteaching. Show all posts
"Mah, sepeda Ina rusak," ujarnya.
Ternyata handlenya ada yang copot sehingga tidak bisa dibelokkan dari belakang.
"Iya, nanti sama Papa aja betulinnya ya." ujar saya.
Jujur, untuk urusan memperbaiki barang dan berbau besi-besi saya sepertinya menyerah karena memang tidak terbiasa untuk melakukannya. Sebagai ibu saya lebih siaga di ranah domestik sekitar urusan dapur, pakaian, dan kebersihan rumah.
Alhamdulillah Pak Suami juga orang yang cukup terampil mengurusi hal-hal yang berbau perbaikan sehingga kami bisa membagi tugas. Terkadang dia juga bisa membantu dalam hal bersih-bersih. Memang betul ya laki-laki itu perlu juga life skill mesk nantinya hanya sesekali menyapu, memasak atau mencuci piring. Kalau istrinya sedang capek, pak suamilah yang harus turun ke lapangan.
Jadi, betul laki-laki itu perlu mandiri, bertanggung jawab, dan bisa life skill. Begitu juga perempuan, biasakan untuk selalu membantu pekerjaan ibu di rumah dan berlatih menjaga adik agar peran menjadi ibu kelak tak terlampau terasa berat.
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayang11
Kelompok yang tampil persentasi adalah kelompok 7 yang terdiri dari Mbak Intan Permata Sari, Mbak Wanti Heryantika dan Mbak Yuni Susilowati. Kelompok ini lebih dalam membahas tentang menjaga fitrah seksualitas anak dari LGBT.
Apa itu LGBT?
Lesbian,
Gay, Biseksual, dan Transgender.
1. Lesbian yaitu perempuan yang tertarik secara seksual pada sesama perempuan.
2. Gay yaitu laki-laki tertarik secara seksual pada sesama laki-laki.
3.
Biseksual yaitu tertarik secara seksual kepada lawan jenis sekaligus sesama
jenis.
4.
Transgender yaitu orang yang memiliki identitas gender berbeda dengan seksnya
yang ditunjuk saat lahir.
Masyarakat Indonesia juga
ikut terkejut, bahkan seakan
baru sadar kalau LGBT itu juga ada di
Indonesia. Selama ini penduduk Indonesia masih menganggap bahwa pernikahan sesama jenis tidak akan terjadi di sini tetapi lupa untuk mencegah bibit-bibitnya. Itulah kenapa saat ada pesta 'syukuran' pernikahan sesama jenis di Bali dan Boyolali pada tahun 2015, kita baru tersadar.
Indonesia. Selama ini penduduk Indonesia masih menganggap bahwa pernikahan sesama jenis tidak akan terjadi di sini tetapi lupa untuk mencegah bibit-bibitnya. Itulah kenapa saat ada pesta 'syukuran' pernikahan sesama jenis di Bali dan Boyolali pada tahun 2015, kita baru tersadar.
Menurut Harry Santosa, LGBT adalah penyimpangan fitrah seksualitas, bukan merupakan
factor genetic (keturunan) tetapi karena salah pengasuhan atau tidak
diagendakan dalam pendidikan atau penularan perilaku lingkungan.
Melihat LGBT yang tengah marak, maka orang
tua sangat perlu untuk mengantisipasi hal ini, yaitu dimulai dari fase pengasuhan
terhadap anak.
Mendidik fitrah seksualitas adalah merawat,
membangkitkan, dan menumbuhkan fitrah sesuai
gendernya, yaitu bagaimana seorang laki-laki berpikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana laki-laki sejati. Juga bagaimana seorang perempuan berpikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai perempuan sejati.
gendernya, yaitu bagaimana seorang laki-laki berpikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana laki-laki sejati. Juga bagaimana seorang perempuan berpikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai perempuan sejati.
Fitrah seksualitas ini perlu dirawat dengan
kehadiran, kedekatan, kelekatan ayah dan ibu secara
utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqil baligh (15 tahun).
utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqil baligh (15 tahun).
Ayah berperan memberikan suplai maskulinitas dan ibu berperan
memberikan suplai feminitas secara seimbang. Anak laki- laki memerlukan 75 % suplai
maskulinitas dan
25 % suplai feminitas. Sedangkan, anak perempuan memerlukan suplai feminitas 75 % dan suplai maskulinitas 25
25 % suplai feminitas. Sedangkan, anak perempuan memerlukan suplai feminitas 75 % dan suplai maskulinitas 25
Anak-anak yang kehilangan salah satu
sosok orang tua baik karena meninggal atau karena
perceraian, maka wajib segera diberikan sosok pengganti hingga mencapai aqil baligh.
Sosok pengganti ini boleh dari keluarga besar maupun komunitas/ jamaah kaum
perceraian, maka wajib segera diberikan sosok pengganti hingga mencapai aqil baligh.
Sosok pengganti ini boleh dari keluarga besar maupun komunitas/ jamaah kaum
muslimin.
Ayah ibu atau sosok penggantinya wajib
mengajarkan anak tentang adab dan cara melindungi diri dari kejahatan seksual.
Menurut Pakar Psikologi Prof. Koentjoro, salah satu faktor seseorang menjadi LGBT
adalah pernah menjadi korban pelecehan seksual sebelumnya sehingga cenderung melakukan
hal serupa.
Adapun adab
yang wajib diajarkan kepada
anak adalah:
- meminta ijin masuk kamar
- mengenalkan aurat dan menjaganya dari pandangan orang lain termasuk keluarga
- memisahkan tempat tidur saat berusia baligh dan dilarang satu selimut walau sesama jenis
anak adalah:
- meminta ijin masuk kamar
- mengenalkan aurat dan menjaganya dari pandangan orang lain termasuk keluarga
- memisahkan tempat tidur saat berusia baligh dan dilarang satu selimut walau sesama jenis
Apa saja tantangan yang muncul terkait LGBT:
1. Minimnya kehadiran ayah dalam pengasuhan
2. Ibu yang terlalu sibuk bekerja (baik pekerjaan rumah maupun pekerjaan di luar rumah) sehingga lupa untuk membersamai anaknya dalam membentuk karakter sesuai fitrah
3. Maraknya kampanye terselubung, bahkan hingga ke buku dan film anak
4. Mudahnya akses internet yang kemudian memberikan kemudahan kaum LGBT mencari "mangsa"
5. Adanya dukungan dari 21 negara di dunia yang melegalkan pernikahan sesama jenis
6. Di Indonesia sendiri, Rancangan Undang-Undang LGBT sempat ramai karena mendapat dukungan 5 fraksi yang ada di DPR.
Solusi
terhadap LGBT:
1. Memohon perlindungan kepada Allah atas diri dan keluarga
2. Menghadirkan sosok ayah dan ibu secara utuh dan seimbang dalam pengasuhan anak hingga
aqil baligh
3. Mengajarkan adab kepada anak
4. Pertegas identitas dan karakter anak
5. Waspada terhadap pelecehan dan kekerasan seksual
6. Ciptakan lingkungan masyarakat yang baik
1. Memohon perlindungan kepada Allah atas diri dan keluarga
2. Menghadirkan sosok ayah dan ibu secara utuh dan seimbang dalam pengasuhan anak hingga
aqil baligh
3. Mengajarkan adab kepada anak
4. Pertegas identitas dan karakter anak
5. Waspada terhadap pelecehan dan kekerasan seksual
6. Ciptakan lingkungan masyarakat yang baik
Referensi 📚
Sinyo,
Lo Gue Butuh Tau LGBT,2016
Hary
Santosa, Fitrah Seksualitas
#fitrahseksualitas#learningbyteaching
#bundasayanglevel11
Kelompok terakhir yang persentasi adalah Mbak Dewi, Mbak Tiffany, Mbak Janti dan Mba Sugih. Kali ini mengangkat tema identitas anak dan fitrah seksualitas. Di awal slide, kelompok ini menshare sejumlah gambar orang-orang yang mengalami penyimpangan seks seperti LGBT dan transgender.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan gender.
Sebagian mereka adalah laki-laki yang bertransgender menjadi perempuan, padahal laki-laki pun punya aurat yang harus dijaga yakni dari pusar sampai lutut.
Fenomena LGBT dan transgender semakin meluas setelah kelompok ini menyatakan dirinya ada dan berhak hidup layaknya orang normal. Hal ini adalah contoh kasus fitrah seksualitas yang tak tumbuh. Bisa jadi saat kecil mengalami trauma atau kekuarangan peran ayah dan ibu.
Masih ingat anak-anak yang kurang dekat dengan ayahnya atau tidak mendapatkan sosok ayah di masa kecilnya? Ternyata setelah besar ia mencari sosok yang ia cari selama ini, dan kerinduannya tersebut menjadikannya suka pada sesama jenis. Naudzubillah..
Sebetulnya hal tersebut bisa saja tidak terjadi jika anak mendapat sosok ayah dari kluarga terdekat lain seperti kakek atau paman sehingga ada sosok panutan yang ia kagumi di masa kecil dan ia teladani sikap keayahannya.
Nabi Muhammad SAW meski terlahir ketika Ayahandanya sudah tiada, ia tetap mendaatlan sosok ayah dari sang kakek dan pamannya juga keluarga angkatnya Harits dan Halimah.
Dengan menghadirkan sosok teladan, para Nabi dan Rasul dan kisah terbaikna diharapkan anak bisa tahu tujuan hidupnya dan peran apa yang ia lakukan di dunia ini.
Lalu, peran apa saja yang bisa dilakukan ayah dan ibu hingga kelak dapat menumbuhkan fitrah seksualitas anak?
#learningbyteaching
#bundasayang11
Kali ini kelompok kami yang terdiri dari Saya (Siti Rahmi), Mbak Winda, Mbak Riri dan Mbak Fitri akan menpersentasikan tema yang kami pilih yaitu Kesetaraan Gender dan Fitrah Seksualitas. Sebetulnya fitrah seksualitas ini cakupannya luas sekali, sehingga dalam ha ini kami hanya membahas yang memang berkaitan langsung dengan fitrah seksualitas.
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau perempuan sejati.
Fitrah seksualitas sangat penting dibangkitkan agar anak mengenal perannya sesuai gender baik dalam keluarga maupun masyarakat, tidak terjadi penyimpangan seks dan bisa tumbuh menjadi ayah sejati bagi laki-laki juga ibu sejati bagi perempuan.
1. Biasnya maknan gender yang dipahami masyarakat luas seperti menganggap laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam segala hal
2. Menganggap aturan agama yang memberi batasan tertentu antara laki-laki dan perempuan sebagai pelanggaran HAM
3. Hilangnya feminitas seorang ibu karena tuntutan kerja atau maskulinitas seorang ayah.
Padahal, Allah telah menjelaskan dalam firmannya di Q.S An-Nisa ayat 32 dan ayat 124 tentang fitrah laki-laki dan perempuan. Keduanya tidak boleh saling iri hati karena Allah memberikan karunia yang sama diantara keduanya.
Adapun fitrah seksualitas sesuai usia dapat dijelaskan dengan tabel dibawah ini.
Bagaimana solusi dari permasalahan gender ini terkait fitrah seksualitas?
1. Mengembalikan/menumbuhkan fitrah keayahbundaan dengan demikian akan membawa efek terhadap fitrah seksualitas anak
2. Membentuk komunitas/ jama'ah/ lingungan yang mendukung visi misi keluarga
3. Mengedukasi keluarga tentang fitrah seksualitas, pendidikan seks dan pemahaman gender melalui komunitas/ jama'ah
4. Ikut berperan aktif sesuai dengan minat bakat
Pertanyaan Diskusi:
1. Bagaimana langkah kongkrit persiapan untuk menjadi ayah ibu di usia anak 10-14 tahun?
2. Bagaimana jika kita terlanjut membentuk imej buruk tentang ayah pada anak?
3. Apakah anak laki-laki perlu memiliki life skill/keahlian seperti ibu pada umumnya?
Jawaban:
1. Ceritakan terelebih dahulu bahwa Allah menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, biasakan anak dengan aktivitasnya sesuai gendernya dan jagalah ucapan atau perkataan bail mengenai pasangan di depan anak. Usahakan jangan menjelekkan pasangan di depan anak.
2. Anak laki-laki tentu harus memiliki life skill tersebut karena kelak harus mandiri dan bertamggungjawab sebagai seorang Suami dan ayah.
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayang11
Diskusi materi ke-6 disajikan oleh Mbak Sulist, Mbak Tita dan Mbak Sri Suryani dengan mngusung tema tantangan gender dan fitrah seksualitas. Tantangan yang dihadapi saat ini berkaitan dengan gender adalah hilangnya feminitas seorang ibu dan masklinitas seorang ayah seperti pada tabel dibawah ini.
Apa itu Fitrah Seksualitas Anak?
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai peempuan sejati.
Tahapan pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak dini yakni dari usia 0-2 sampai dengan 15 tahun.
Tahap 0-2: Dekat dengan bundanya
Tahap 2-6: Dekat dengan orang tuanya
Tahap 7-10: Dekatkan anak sesuai gendernya
Tahap 10-14: Dekatkan anak dengan lintas gender (Ayah dekat dengan anak perempuan dan ibu dekat anak laki-lakinya)
Tahap 15< :Usia aqil baligh sudah tuntas
1. Mengedukasi keluarga
2. Ikut berperan aktif sesuai minat dan bakat anak
3. Membentuk visi dan misi keluarga
4. Mengembalikan fitrah keayahbundaan
5. Bermain sesuai dengan fitrah gender
6. Kenalkan gender keluarga
7. Pisahkan tempat tidur anak
8. Ajarkan untuk mengatakan 'tidak' pada hal-hal yang tidak baik
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayanglevel11
Pada hari Senin kelompok 3 yakni Mbak Wiwi, Mbak Ami dan Mbak Feni melanjutkan sesi diskusi materi tentang mempersiapkan anak menuju aqil baligh. Mengingat banyaknya fenomena sekarang anak-anak lebih cepat dewasa secara fisik namun kedewasaan berpikir belum tercapai.
Apa yang menyebabkan aqil dan baligh tidak terjadi secara beriringan?
Definisi aqil baligh adalah seseorang yang sudah sampai pada usia tertentu untuk dibebani hukum syariat dan mampu mengetahui atau mengerti hukum tersebut. Dalam biologi disebut pubertas yang ditandai dengan munculnya tand akelamin primer. Untuk perempuan mengalami menstruasi dan untuk laki-laki mengalami mimpi basah.
Apa saja tantangan yang dihadapi terkait hal ini?
Ternyata banyak anak yang belum siap menghadaoi masa balighnya terlebih cara berpikir mereka belum matang. Kebanyakan anak mendaat informasi mengenai seks bukan dari sumber terpercaya melainkan dari teman atau media sehingga rentan terjadi penyimpangan seksual.
Bagaimana langkah untuk mempersiapakan anak menuju aqil baligh agar selamat dari berbagai penyimpangan?
Yang pertama, tentu harus menanamkan pondasi keimanan sejak dini, menghidupkan keteladan dari panutan mulia rasulullah SAW para sahabat dan anbiyya. Orang tua juga harus mengajarkan bagaimana cara menundukan pandangan dan berusaha memberi pendidikan tentang fiqh berkaitan dengan munculnya tanda baligh.
Selanjutnya, perkuat visi dan misi keluarga hingga anak paham apa yang menjadi nilai dalam keluarga. Berusahalah juga untuk menjadi tempat curhat yang nyaman untuk ananda. Tentunya ajaklah anak dalam kegiatan positif agar terhindar dari kegiatan negatif.
Bagan ini memperlihatkan bagaimana perempuan dan laki-laki ketika mencapai baligh.
Pertanyaan Diskusi:
1. Bagaimana menguatkan akal/akil anak sebelum aqil baligh karena sering terjadi akilnya belum siap tapi sudah baligh?
2. Bagaimana ketika orang tua sudah memberikan pendidikan tentang aqil alih tersebut tapi ketika anak baligh sedang mondok atau di pesantren?
Jawaban:
1. Dari segi akal perkuat dengan teladan baik Rasulullah dan para sahabat. Tentunya sebelumnya fitrah keimanan sudah umbuh dan fitrah bakat juga sudah terlihat sehingga anak lebih fokus mengasah bakatnya (kegiatan positif)
2. Biasanya ada kunjungan orangtua ke pesantren. Manfaatkan kunjungan ini untuk berkomunikasi dengan anak dan tak lupa menitipkan pesan ke pembimbing atau ustadz/ustadzah disana.
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayang11
Kelompok 5 di hari ke-3 mempersentasikan tentang 'Self Defense dalam Seksualitas'. Mengingat sudha terlalu banyak hal yang tak diinginkan terjadi karena anak-anak tak mempunyai pertahanan diri dalam menjaga tubuhnya. Padahal sejak dini, anak harus sudah tahu bhawa tubuhnya tidak bisa sembarang dipegang atau diraba oleh orang lain.
Hal apa yang bisa dilakukan agar anak memilki self defense tersebut?
1. Tanamkan rasa malu pada anak dengan mengajari anak untuk menutup auratnya, juga jangan dibiasakan telanjang setelah dari kamar mandi.
2. Tanamkan jiwa maskulinitas pada laki-laki dan feminitas pada anak perempuan.
3. Memisahkan tempat tidur mereka
4. Mendidik untuk menjaga kebersihan kelamin atau alat reproduksi
5. Mengenalkan mahrom
6. Mendidik untuk menjaga mata
7. Mendidik anak agar tidak melakukan ikkhtilat
8. Mendidik anak agar tidak berkhalwat
9. Mendidik etika berhias
10. Mengenalkan ihtilam dan haid sebagai tanda balighnya seorang anak
11. Memberi tahu anak apa saja yang boleh dipegang oleh orang lain dan mana yang tidak
1. Bagaimana mengatasi anak balita yang suka berlari-lari tanpa mengenakan baju setelah mandi?
2. Batasan apa saja ketika bercanda dengan anak atau menggelitiknya?
Jawaban:
1. Anak mencontoh dari apa yang dia lihat. Terlebih dahulu ajak anak ke kamar dengan menggiringnya lewat nyanyian atau games mencari boneka. Jika anak sudah bisa bercakap, katakn bahwa setelah mandi sebaiknya langsung berpakaian.
2. Bercanda pada anak tentu ada batasan. Mengelitik tidak boleh dilanjutkan jika anak merasa tidak senang. Orang tua juga perlu menghormati anak agar ia tahu cara menghargai orang lain dan tahu teritori tubuhnya yang tidak boleh sembarang di sentuh orang lain, akan tetapi jika anak happy tentu tidak apa-apa.
#learningbyteaching
#bundasayang11
Di hari ke-2 diskusi, kelompok 4 yang terduru dari Mbak Rizki A, Mbak Waliyatun dan Mbak Yosi mempersentasikan materi tentang 'Peran Ayah Mendampingi Fitrah Seksualitas'.
Mengapa peran ayah begitu penting dalam mendampingi anak menumbuhkan fitrah seksualitasnya?
Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan pun ayah adalah pahlawan pejuang bagi anak laki-laki. Ayah dan Ibu saling bahu membahu dalam membangun kedekatan terhadap anak, karena anak membutuhkan gambaran dan teladan dari sosok keduanya.
Bagaimana dengan fenomena Fatherless?
Fatherless adalah ketika ayah hanya ada secara biologis namun tdak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak. Dampaknya:
1. Fenomena kebancian karena dominan sosok ibu
2. Laki-laki yang cerewet dan sering komplain, bukan mendobrak situasi dan tantangan
3. Anak perempuan yang benci laki-laki atau mudah dipermainkan laki-laki
Penyebabnya:
1. Ayah yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu untuk bermian bersama anak
2. Ayah bicara terlalu ringkas
3. Kekerasan terhadap anak dan istri
Lantas bagaimana mencegah agar hal ini tidak terjadi?
1. Ayah menjadi pendidik, bukan penjajah
2. Mengenalkan anak pada Allah dan RasulNya
3. Mengikat anak pada hukum Allah dan RasulNya
4. Pendidikan seksual dari sisi agama yang harus diketahui sang ayah
5. Jadilah ayah yang berselera tinggi, selera para anbiyya, shalihin dan shodiqin.
Pertanyaan diskusi:
1. Bagaimana untuk ayah yang bekerja di luar pulau?
2. Bagaimana jika anak perempuan senang mainan anak laki-laki?
Jawab:
1. Untuk ayah yang bekerja di luar pulau bisa melakukan komunikasi video call kepada anak, update perkembangan anak kepada sang ibu, ketika bertemu tidak menginterogasi anak melainkan membuatnya sneang atau memotivasi anak.
2. Jika anak sudah mengetahui gendernya tidak usah cemas, tapi sebiaknya kenalkan sedikit demi sedikit aktivitas yang dilakukan perempuan.
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayang11
Mengapa peran ayah begitu penting dalam mendampingi anak menumbuhkan fitrah seksualitasnya?
Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan pun ayah adalah pahlawan pejuang bagi anak laki-laki. Ayah dan Ibu saling bahu membahu dalam membangun kedekatan terhadap anak, karena anak membutuhkan gambaran dan teladan dari sosok keduanya.
Bagaimana dengan fenomena Fatherless?
Fatherless adalah ketika ayah hanya ada secara biologis namun tdak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak. Dampaknya:
1. Fenomena kebancian karena dominan sosok ibu
2. Laki-laki yang cerewet dan sering komplain, bukan mendobrak situasi dan tantangan
3. Anak perempuan yang benci laki-laki atau mudah dipermainkan laki-laki
Penyebabnya:
1. Ayah yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu untuk bermian bersama anak
2. Ayah bicara terlalu ringkas
3. Kekerasan terhadap anak dan istri
Lantas bagaimana mencegah agar hal ini tidak terjadi?
1. Ayah menjadi pendidik, bukan penjajah
2. Mengenalkan anak pada Allah dan RasulNya
3. Mengikat anak pada hukum Allah dan RasulNya
4. Pendidikan seksual dari sisi agama yang harus diketahui sang ayah
5. Jadilah ayah yang berselera tinggi, selera para anbiyya, shalihin dan shodiqin.
Pertanyaan diskusi:
1. Bagaimana untuk ayah yang bekerja di luar pulau?
2. Bagaimana jika anak perempuan senang mainan anak laki-laki?
Jawab:
1. Untuk ayah yang bekerja di luar pulau bisa melakukan komunikasi video call kepada anak, update perkembangan anak kepada sang ibu, ketika bertemu tidak menginterogasi anak melainkan membuatnya sneang atau memotivasi anak.
2. Jika anak sudah mengetahui gendernya tidak usah cemas, tapi sebiaknya kenalkan sedikit demi sedikit aktivitas yang dilakukan perempuan.
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayang11
Hari pertama diskusi kelompok tentang Fitrah Seksualitas dimulai
oleh kelompok 8 oleh Mbak Nurina, Mbak Yuni dan Teh Kiki. Kelompok 8
mengusung tema tentang 'Mengenalkan Fitrah Seksualitas pada Balita'.Menurut beberapa pakar parenting, pendidikan seks adalah mempelajari perbedaan jenis kelamin, perbedaan peran, cara merawat alat biologis, adab berinteraksi dengan lawan jenis, mempelajari proses reproduksi dan mempersiapkan ilmu pra-nikah hingga setelah menikah. Adapun keseluruhannya akan melibatkan cara berpikir dan bertindak seseorang sesuai kapasitas kepribadian yang telah dibentuknya sejak kecil.
Setiap
manusia dikarunia fitrah untuk bertindak sesuai gendernya, laki-laki
atau perempuan karena sejatinya setiap manusia memiliki peran dan tugas
masing-masing untuk memakmurkan bumi dengan kekhasan yang berbeda. Kelak
fitrah seksualitas ini jika berkembang baik akan mencapai kematangan
kepribadian sebagai seorang laki-laki yang juga memiliki sifat keayahan
juga seorang perempuan yang memilki sifat keibuan.Lantas mengapa fitrah seksualitas ini harus ditumbuhkan sejak dini?
Ibu Septi Peni Founder Ibu Profesional berpendapat, Intellectual Curiosity anak terhadap seksual sudah dimulai sejak dini, oleh karena itu para orang tua hendaknya terus mendapingi tumbuh kembang buah hati sehingga mampu dibimbing pada fitrahnya.
Bagaimana tahapan fitrah seksualitas tersebut sesuai usia?


Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya. Pada usia ini, bayi memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan ibu karena menyusu langsung pada ibu.
Usia 0-3 tahun, anak lelaki dan perempuan harus dekat dengan ayah dan ibu agar anak memiliki keseimbangan emosional dan rasional serta mampu membedakan sosok laki-laki dan perempuan.
Usia 0-7 tahun sebaiknya anak perempuan didekatkan pada ibu dan anak lelaki didekatkan pada ayah agar anak memahami peran gendernya masing-masing.
Anak laki-laki dan perempuan mulai harus mengenali organ tubuh masing-masing, tahu rasa malu, bisa bersuci, dibangun sisi fenimis dan maskulinnya, dan dilatih untuk berkata tidak. Pada usia ini juga, anak sudah dipisahkan tidurnya.
Usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan pada ibu dan anak perempuan didekatkan pada ayah supaya anak dapat belajar memahami dan berempati secara langsung terhadap sosok wanita atau pria terdekatnya.
Usia> 15 tahun anak sudah menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
![]() |
Diskusi pada sesi pertanyaan:
1. Bagaimana persiapan memisahkan kamar anak?
2. Bagaimana peran ayah untuk menumbuhkan fitrah seksualitas anak dalam keadaan LDM?
Jawaban:
1. Mempersiapkan tempat tidur yang nyaman dan disenangi anak. Bisa dengan menempel karakter di dinding atau mengecat kamar dengan warna kesuakaan anak.
2. Untuk menyikapi hal tersebut, hal yang bisa dilakukan adalah:
- Ketika ayah sedang dirumah, perbanyak kualitas dan kuantitas kebersaman ayah dan anak
- Ketika sedang berjauhan dengan ayah, anak bisa mendapatkan sosok ayah dari keluarga laki-laki terdekat seperti paman atau kakek
- Anak juga bisa menghubingi sang ayah melalui telepon atau video call selama masa LDM
#fitrahseksualitas
#learningbyteaching
#bundasayang11
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)




































